..HUBUNGI: 081361228624:::..Dengan Lautan Karomah Dan Samudra Hidayah Dari Alloh….. ..Kami Siap membantu Tuntaskan Masalah Anda...Terbuka Untuk Semua Agama...HUBUNGI:081361228624:::..

Minggu, 22 Februari 2009

KERAJAAN MAJAPAHIT


By on 06.53

Didirikan tahun 1294 oleh Raden Wijaya yang bergelar Kertarajasa Jayawardana yang merupakan keturunan Ken Arok raja Singosari

raja yang memerintah:

Raden Wijaya 1273 - 1309

Jayanegara 1309-1328

Tribhuwanatunggaldewi 1328-1350

Hayam Wuruk 1350-1389

Wikramawardana 1389-1429

Kertabhumi 1429-1478

mencapai puncak kejayaannya di masa pemerintahan Raja Hayam Wuruk (1350-1389)

kebesaran kerajaan ditunjang oleh:

pertanian sudah teratur

perdagangan lancar dan maju

memiliki armada angkutan laut yang kuat

dipimpin oleh Hayam Wuruk dengan patih Gajah Mada

di bawah patih Gajah Mada Majapahit menaklukkan daerah lain

ia mengucapkan Sumpah Palapa yang berbunyi:

Ia tidak akan makan buah palapa sebelum berhasil menyatukan seluruh wilayah Nusantara

Mpu Prapanca dalam bukunya Negara Kertagama menceritakan tentang zaman gemilang kerajaan di masa Hayam Wuruk dan juga silsilah raja sebelumnya

tahun 1364 Gajah Mada meninggal disusun oleh Hayam Wuruk di tahun 1389 dan kerajaan Majapahit mulai mengalami kemunduran

Penyebab kemunduran:

Majapahit kehilangan tokoh besar seperti Hayam Wuruk dan Gajah Mada

meletusnya Perang Paragreg tahun 1401-1406 merupakan perang saudara memperebutkan kekuasaan

daerah bawahan mulai melepaskan diri

berkembangnya Islam di daerah pesisir

serangan pasukan Kediri tahun 1478

Peninggalan kerajaan Majapahit:

bangunan: Candi Panataran, Sawentar, Tiga Wangi, Muara Takus

kitab:

Negara Kertagama oleh Mpu Prapanca

Sitosoma oleh Mpu Tantular yang memuat slogan Bhinneka Tunggal Ika

Paraton

Kidung Sundayana dan Sorandaka

R Wijaya Mendapat Wangsit Mendirikan Kerajaan Majapahit.

Dua pohon beringin di pintu masuk Pendopo Agung di Trowulan, Mojokerto. Dua pohon beringin itu ditanam pada 22 Desemebr 1973 oleh Pangdam Widjojo Soejono dan Gubernur Moehammad Noer.

Di belakang bangunan Pendopo Agung yang memampang foto para Pangdam Brawijaya, terdapat bangunan mungil yang dikelilingi kuburan umum. Bangunan bernama Petilasan Panggung itu diyakini Petilasan Raden Wijaya dan tempat Patih Gajah Mada mengumandangkan Sumpah Palapa.

Begitu memasuki bangunan Petilasan Panggung, yang memiliki pendopo mini sebagai latarnya, tampak beberapa bebatuan yang dibentuk layaknya kuburan, dinding di sekitar " kuburan " itu diselimuti kelambu putih transparan yang mampu menambah kesakralan tempat itu.

Menurut Sajadu ( 53 ) penjaga Petilasan Panggung, disinilah dulu Raden Wijaya bertapa sampai akhirnya mendapat wangsit mendirikan kerajaan Majapahit. Selain itu, ditempat ini pula Patih Gajah Mada mengumandangkan Sumpah Palapa. " Tempat ini dikeramatkan karena dianggap sebagai Asnya Kerajaan Majapahit " katanya.

Pada waktu tertentu khususnya bertepatan dengan malam jumat legi, banyak orang datang untuk berdoa dan mengharapkan berkah. " orang berdatangan untuk berdoa, agar tujuannya tercapai " kata Sajadu yang menyatakan pekerjaan menjaga Petilasan Panggung sudah dilakukan turun-temurun sejak leluhurnya.

Sembari menghisap rokok kreteknya, pria yang mewarisi sebagai penjaga petilasan dari ayahnya sejak 1985 juga menceritakan, dulunya tempat itu hanya berupa tumpukkan bebatuan. Sampai sekarang, batu tersebut masih ada di dalam, katanya.

Kemudian pada 1964, dilakukan pemugaran pertama kali oleh Ibu Sudarijah atau yang dikenal dengan Ibu Dar Moeriar dari Surabaya. Baru pada tahun 1995 dilakukan pemugaran kembali oleh Pangdam Brawijaya yang saat itu dijabat oleh Utomo.

Memasuki kawasan Petilasan Panggung, terpampang gambar Gajah Mada tepat disamping pintu masuk. Sedangkan dibagian depan pintu bergantung sebuah papan kecil dengan tulisan " Lima Pedoman " yang merupakan pedoman suri teladan bagi warga.

Selengkapnya " Ponco Waliko " itu bertuliskan " Kudutrisno Marang Sepadane Urip, Ora Pareng Ngilik Sing Dudu Semestine, Ora Pareng Sepatah Nyepatani dan Ora Pareng Eidra Hing Ubaya "

Dikisahkan Sajadu pula, Petilasan Panggung ini sempat dinyatakan tertutup bagi umum pada tahun 1985 hingga 1995. Baru setelah itu dibuka lagi untuk umum, sejak dinyatakan dibuka lagi, pintu depan tidak lagi tertutup dan siangpun boleh masuk.

MASA KEJAYAAN MAJAPAHIT

Kerajaan Majapahit mencapai masa keemasan ketika dipimpin oleh Hayam Wuruk dengan patihnya Gajah Mada yang terkenal dengan Sumpah Palapa. Majapahit menaklukkan hampir seluruh Nusantara dan melebarkan sayapnya hingga ke seluruh Asia Tenggara. Pada masa ini daerah Malang tidak lagi menjadi pusat kekuasaan karena diduga telah pindah ke daerah Nganjuk. Menurut para ahli di Malang ditempatkan seorang penguasa yang disebut Raja pula.

Dalam Negara Kertagama dikisahkan Hayam Wuruk sebagai Raja Majapahit melakukan ziarah ke makam leluhurnya (yang berada disekitar daerah Malang), salah satunya di dekat makam Ken Arok. Ini menunjukkan bahwa walaupun bukan pusat pemerintahan namun Malang adalah kawasan yang disucikan karena merupakan tanah makam para leluhur yang dipuja sebagai Dewa. Beberapa prasasti dan arca peninggalan Majapahit dikawasan puncak Gunung Semeru dan juga di Gunung Arjuna menunjukkan bahwa kawasan Gunung tersebut adalah tempat bersemayam para Dewa dan hanya keturunan Raja yang boleh menginjakkan kaki di wilayah tersebut. Bisa disimpulkan bahwa berbagai peninggalan tersebut merupakan rangkaian yang saling berhubungan walaupun terpisah oleh masa yang berbeda sepanjang 7 abad.

Keruntuhan Majapahit

Tersebutlah kisah, Adipati Terung meminta Sultan Bintara alias Raden Patah yang masih "kapernah" kakaknya, untuk menghadap Prabu Brawijaya. Tapi Sultan Demak itu tidak mau karena ayahnya dianggap masih kafir.Brawijaya adalah raja Majapahit, kerajaan Hindu yang pernah jaya ditanah Jawa. Bahkan kemudian Raden Patah lalu mengumpulkan para bupati pesisir seperti Tuban, Madura dan Surabaya serta para Sunan untuk bersama-sama menyerbu Majapahit yang kafir itu. Prajurit Islam dikerahkan mengepung ibu kota kerajaan, karena segan berperang dengan puteranya sendiri, Prabu Brawijaya
meloloskan diri dari istana bersama pengikut yang masih setia. Sehingga ketika Raden Patah dan rombongannya (termasuk para Sunan) tiba, istana itu kosong. Atas nasihat Sunan Ampel, untuk menawarkan segala pengaruh raja kafir, diangkatlah Sunan Gresik jadi raja Majapahit selama 40 hari. Sesudah itu baru diserahkan kepada Sultan Bintara untuk diboyong ke Demak.
Cerita ini masih dibumbui lagi, yaitu setelah Majapahit jatuh, Adipati Terung ditugasi mengusung paseban raja Majapahit ke Demak untuk kemudian dijadikan serambi masjid. Adipati Bintara itu kemudian bergelar "Senapati Jinbun Ngabdurrahman Panembahan Palembang Sayidina Panatagama".


Cerita mengenai serbuan tentara Majapahit itu dapat ditemui dalam "BABAD TANAH JAWI". Tapi cerita senada juga terdapat dalam "Serat Kanda". Disebutkan, Adipati Bintara bersama pengikutnya memberontak pada Prabu Brawijaya. Bala tentara Majapahit dipimpin oleh Mahapatih Gajah Mada, Adipati Terung dan Andayaningrat (Bupati Pengging). Karena takut kepada Syekh Lemah Abang, gurunya, Kebo Kenanga (Putra Bupati Pengging) membelot ikut musuh. Sementara itu Kebo Kanigara saudaranya tetap setia kepada Sang Prabu Brawijaya.


Tentara Demak dibawah pimpinan Raden Imam diperlengkapi dengan senjata sakti "Keris Makripat" pemberian Sunan Giri yang bisa mengeluarkan hama kumbang dan "Badhong" anugerah Sunan Cirebon yang bisa mendatangkan angin ribut. Tentara Majapahit berhasil dipukul mundur sampai keibukota, cuma rumah adipati Terung yang selamat karena ia memeluk Islam.


Karena terdesak, Prabu Brawijaya mengungsi ke (Tanjung) sengguruh beserta keluarganya diiringi Patih gajah Mada. Itu terjadi tahun 1399 Saka atau 1477 Masehi. Setelah dinobatkan menjadi Sultan Demak bergelar "Panembahan Jinbun", adipati Bintara mengutus Lembu Peteng dan jaran panoleh ke sengguruh meminta sang Prabu masuk agama Islam. tapi beliau tetap menolak. Akhirnya Sengguruh diserbu dan Prabu Brawijaya lari kepulau Bali.


Cerita versi BABAD TANAH JAWI dan SERAT KANDA itulah yang selama ini populer dikalangan masyarakat Jawa, bahkan pernah juga diajarkan disebagian sekolah dasar dimasa lalu. Secara garis besar, cerita itu boleh dibilang menunjukkan kemenangan Islam. Padahal sebenarnya sebaliknya, bisa memberi kesan yang merugikan, sebab seakan-akan Islam berkembang di Jawa dengan kekerasan dan darah. Padahal kenyataannya tidak begitu.


Selain fakta lain banyak menungkap bahwa masuknya Islam dan berkembang ditanah Jawa dengan jalan damai. Juga fakta keruntuhan Majapahit juga menunjukkan bukan disebabkan serbuan tentara Islam demak.


Prof. Dr. Slamet Muljana dalam bukunya "Pemugaran Persada Sejarah Leluhur Majapahit" secara panjang lebar membantah isi cerita itu berdasarkan bukti-bukti sejarah. Dikatakan Babad Tanah Jawi dan Serat Kanda yang ditulis abad XVII dijaman Mataram itu tanpa konsultasi sumber sejarah yang dapat dipercaya. Sumber sejarah itu antara lain beberapa prasasti dan karya sejarah tentang Majapahit, seperti "Negara Kertagama dan Pararaton". Karena itu tidak mengherankan jika uraiannya tentang Majapahit banyak yang cacat.


"Prasasti Petak" dan "Trailokyapuri" menerangkan, raja Majapahit terakhir adalah Dyah Suraprahawa, runtuh akibat serangan tentara keling pimpinan Girindrawardhana pada tahun 1478 masehi, sesuai Pararaton. Sejak itu Majapahit telah berhenti sebagai ibu kota kerajaan. Dengan demikian tak mungkin Majapahit runtuh karena serbuan Demak. Sumber sejarah Portugis tulisan Tome Pires juga menyebutkan bahwa Kerajaan Demak sudah berdiri dijaman pemerintahan Girindrawardhana di Keling.


Saat itu Tuban, Gresik, Surabaya dan Madura serta beberapa kota lain dipesisir utara Jawa berada dalam wilayah kerajaan Kediri, sehingga tidak mungkin seperti diceritakan dalam Babad Jawa, Raden Patah mengumpulkan para bupati itu untuk menggempur Majapahit.


Penggubah Babad Tanah Jawi tampaknya mencampur adukkan antara pembentukan kerajaan Demak pada tahun 1478 dengan runtuhnya Kediri oleh serbuan Demak dijaman pemerintahan Sultan Trenggano 1527. Penyerbuan Sultan Trenggano ini dilakukan karena Kediri mengadakan hubungan dengan Portugis di Malaka seperti yang dilaporkan Tome Pires. Demak yang memang memusuhi Portugis hingga menggempurnya ke Malaka tidak rela Kediri menjalin hubungan dengan bangsa penjajah itu.


Setelah Kediri jatuh (Bukan Majapahit !) diserang Demak, bukan lari kepulau Bali seperti disebutkan dalam uraian Serat Kanda, melainkan ke Panarukan, Situbondo setelah dari Sengguruh, Malang. Bisa saja sebagian lari ke Bali sehingga sampai sekarang penduduk Bali berkebudayaaan Hindu, tetapi itu bukan pelarian raja terakhir Majapahit seperti disebutkan Babad itu. Lebih jelasnya lagi raden Patah bukanlah putra Raja Majapahit terakhir seperti disebutkan dalam Buku Babad dan Serat Kanda itu, demikian Dr. Slamet Muljana.


Sejarawan Mr. Moh. Yamin dalam bukunya "Gajah Mada" juga menyebutkan bahwa runtuhnya Brawijaya V raja Majapahit terakhir, akibat serangan Ranawijaya dari kerajaan Keling, jadi bukan serangan dari Demak. Uraian tentang keterlibatan Mahapatih Gajah Mada memimpin pasukan Majapahit ketika diserang Demak 1478 itu sudah bertentangan dengan sejarah.
Soalnya Gajah Mada sudah meninggal tahun 1364 Masehi atau 1286 Saka.


Penuturan buku "Dari Panggung Sejarah" terjemahan IP Simanjuntak yang bersumber dari tulisan H.J. Van Den Berg ternyata juga runtuhnya Majapahit bukan akibat serangan Demak atau tentara Islam. Ma Huan, penulis Tionghoa Muslim, dalam bukunya "Ying Yai Sheng Lan" menyebutkan, ketika mendatangi Majapahit tahun 1413 Masehi sudah menyebutkan masyarakat Islam yang bermukim di Majapahit berasal dari Gujarat dan Malaka. Disebutkannya, tahun 1400 Masehi saudagar Islam dari Gujarat dan Parsi sudah bermukim di pantai utara Jawa.


Salah satunya adalah Maulana Malik Ibrahim yang dimakamkan di Pasarean Gapura Wetan Kab. Gresik dengan angka tahun 12 Rabi'ul Awwal 882 H atau 8 April 1419 Masehi, berarti pada jaman pemerintahan Wikramawardhana (1389-1429) yaitu Raja Majapahit IV setelah Hayam Wuruk. Batu nisan yang berpahat kaligrafi Arab itu menurut Tjokrosujono (Mantan kepala Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala, Mojokerto), nisan itu asli bukan buatan baru.


Salah satu bukti bahwa sejak jaman Majapahit sudah ada pemukiman Muslim diibu kota, adalah situs Kuna Makam Troloyo, Kecamatan Trowulan, Mojokerto, JATIM. Makam-makam Islam disitus Troloyo Desa Sentonorejo itu beragam angka tahunnya, mulai dari tahun 1369 (abad XIV Masehi) hingga tahun 1611 (abad XVII Masehi).


Nisan-nisan makam petilasan di Troloyo ini penuh tulisan Arab hingga mirip prasati. Lafalnya diambil dari bacaan Doa, kalimah Thayibah dan petikan ayat-ayat AlQuran dengan bentuk huruf sedikit kaku. Tampaknya pembuatnya seorang mualaf dalam Islam. Isinya pun bukan bersifat data kelahiran dan kematian tokoh yang dimakamkan, melainkan lebih banyak bersifat dakwah antara lain kutipan Surat Ar-Rahman ayat 26-27.




P.J. Veth adalah sarjana Belanda yang pertama kali meneliti dan menulis makam Troloyo dalam buku JAVA II tahun 1873.
L.C. Damais peneliti dari Prancis yang mengikutinya menyebutkan angka tahun pada nisan mulai abad XIV hingga XVI. Soeyono Wisnoewhardono, Staf Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala di Trowulan mengatakan, nisan-nisan itu membuktikan ketika kerajaan Majapahit masih berdiri, orang-orang Islam sudah bermukim secara damai disekitar ibu kota.
Tampak jelas disini agama Islam masuk kebumi Majapahit penuh kedamaian dan toleransi.


Satu situs kepurbakalaan lagi dikecamatan trowulan yakni diDesa dan kecamatan Trowulan adalah Makam Putri Cempa. Menurut Babad Tanah jawi, Putri Cempa (Jeumpa, bahasa Aceh) adalah istri Prabu Brawijaya yang beragama Islam. Dua nisan yang ditemukan dikompleks kekunaan ini berangka tahun 1370 Saka (1448 Masehi) dan 1313 Saka (1391 Masehi).
Dalam legenda rakyat disebutkan dengan memperistri Putri Cempa itu, sang Prabu sebenarnya sudah memeluk agama Islam. Ketika wafat ia dimakamkan secara Islam dimakam panjang (Kubur Dawa). Dusun Unggah-unggahan jarak 300 meter dari makam Putri Cempa bangsawan Islam itu.


Dari fakta dan situs sejarah itu, tampak bukti otentik tentang betapa tidak benarnya bahwa Islam dikembangkan dengan peperangan. Justru beberapa situs kesejarahan lain membuktikan Islam sangat toleran terhadap agama lain (termasuk Hindu) saat Islam sudah berkembang pesat ditanah Jawa.


Dikompleks Sunan Bonang di Tuban, Jawa Timur misalnya, berdiri tegak Candi Siwa Budha dengan angka tahun 1400 Saka (1478 masehi) yang kini letaknya berada dibelakang kantor Pemda tuban. Padahal, saat itu sudah berdiri pondok pesantren asuhan Sunan Bonang. Pondok pesantren dan candi yang berdekatan letaknya ini dilestarikan dalam sebuah maket kecil dari kayu tua yang kini tersimpan di Museum Kambang Putih, Tuban.


Di Kudus, Jawa Tengah, ketika Sunan Kudus Ja'far Sodiq menyebarkan ajaran Islam disana, ia melarang umat Islam menyembelih sapi untuk dimakan. Walau daging sapi halal menurut Islam tetapi dilarang menyembelihnya untuk menghormati kepercayaan umat Hindu yang memuliakan sapi.


Untuk menunjukkan rasa toleransinya kepada umat Hindu, Sunan Kudus menambatkan sapi dihalaman masjid yang tempatnya masih dilestarikan sampai sekarang. Bahkan menara Masjid Kudus dibangun dengan gaya arsitektur candi Hindu.

ketika kerajaan Majapahit berdiri sebagai bagian dari perjalanan bangsa Indonesia. Sejak didirikan Raden Wijaya yang bergelar Kertanegara Dharmawangsa, kerajaan ini senantiasa diliputi fenomena pemberontakan.
Pewaris tahta Raden Wijaya, yakni masa pemerintahan Kalagemet/Jayanegara (1309-1328), yang dalam sebuah prasasti dianggap sebagai titisan Wisnu dengan Lencana negara Minadwaya (dua ekor ikan) dalam memerintah banyak menghadapi pemberontakan-pemberontakan terhadap Majapahit dari mereka yang masih setia kepada Kertarajasa.

Pemberontakan pertama sebetulnya sudah dimulai sejak Kertarajasa masih hidup, yaitu oleh Rangga Lawe yang berkedudukan di Tuban, akibat tidak puas karena bukan dia yang menjadi patih Majapahit tetapi Nambi, anak Wiraraja. Tetapi usahanya (1309) dapat digagalkan.

Pemberontakan kedua di tahun 1311 oleh Sora, seorang rakryan di Majapahit, tapi gagal. Lalu yang ketiga dalam tahun 1316, oleh patihnya sendiri yaitu Nambi, dari daerah Lumajang dan benteng di Pajarakan. Ia pun sekeluarga ditumpas.
Pemberontakan selanjutnya oleh Kuti di tahun 1319, dimana Ibukota Majapahit sempat diduduki, sang raja melarikan diri dibawah lindungan penjaga-penjaga istana yang disebut Bhayangkari sebanyak 15 orang dibawah pimpinan Gajah Mada.

Namun dengan bantuan pasukan-pasukan Majapahit yang masih setia, Gajah Mada dengan Bhayangkarinya menggempur Kuti, dan akhirnya Jayanegara dapat melanjutkan pemerintahannya.

Berhenti pemberontakan Kuti, tahun 1331 muncul pemberontakan di Sadeng dan Keta (daerah Besuki). Maka patih Majapahit Pu Naga digantikan patih Daha yaitu Gajah Mada, sehingga pemberontakan dapat ditumpas. Keberhasilan Gajah Mada memadamkan pemberontakan Sadeng membawanya meraih karier diangkat sebagai mahapatih kerajaan.

Namun pada masa pemerintahan Hayam Wuruk pada tahun 1350-1389, berkali-kali sang patih Gajah Mada --yang juga panglima ahli perang di masa itu-- harus menguras energi untuk memadamkan pemberontakan di beberapa daerah. Pemberontakan Ronggolawe sampai serangan kerajaan Dhaha, Kediri.

Bahkan salah satu penyebab kemunduran dan hancurnya kerajaan Majapahit adalah ketika meletusnya Perang Paragreg tahun 1401-1406 merupakan perang saudara memperebutkan kekuasaan, daerah bawahan mulai melepaskan diri dan berkembangnya Islam di daerah pesisir

Kerajaan Majapahit yang pernah mengalami masa keemasan dan kejayaan harus runtuh terpecah-pecah setelah kehilangan tokoh besar seperti Hayam Wuruk dan Gajah Mada.

About Syed Faizan Ali

Faizan is a 17 year old young guy who is blessed with the art of Blogging,He love to Blog day in and day out,He is a Website Designer and a Certified Graphics Designer.

0 komentar:

Poskan Komentar

PETUAH PENGHUSADA

Dalam kita melakukan ritualisasi keilmuan, baik itu yang manapun jenis keilmuannya ada dikenal dengan sebutan “sampai jadi” lalu meningkat “sampai jadi-jadian”, banyak orang gagal pada saat ingin ke tingkat “sampai jadi” sebab untuk mendapatkan ilmu sampai jadi dibutuhkan ketekunan,ketaatan bahkan kesabaran. konsef amanah (berusaha mempertahankan niat awal ketika melakukan ritual yaitu hati dan pikiran dari awal dimulainya proses berjuang hingga mencapai “sampai jadi” selesai ritual) sangat diperlukan agar kita tetap digaris prosesi sampai jadi.

Untuk mendapatkan “sampai jadi” tidak cukup dilakukan hanya sekali atau beberapa kali, ia dilakukan sampai jadi (sampai niatnya berhasil). Dalam proses ini tidak kenal yang namanya lelah, ngeluh, prustasi, putus asa tetapi mengenal sabar, tekun, taat, teguh, tiada henti. maka mudah2an dapat mencapai tingkat sampai jadi. Kalau sudah mencapai sampai jadi tentu keilmuan sudah dapat dibuktikan (dapat terbukti) kapan saja diinginkan. Mendapatkan predikat sampai jadi hanya sedikit orang yang berhasil dalam kurun waktu seketika itu (tidak menunggu besok). tetapi kebanyakan orang untuk mencapai sampai jadi hingga berbulan bulan bahkan bertahun tahun. makanya jangan heran apabila ada kita temukan orang melakukan perjuangan untuk mendapatkan sebuah ilmu hingga bertapa bertahun tahun.

Sementara mencapai “sampai jadi jadian” adalah bagi mereka yang ingin menyempurnakan keilmuannya. Dan golongan inilah yang tetap nmenjaga volume keilmuan dan meningkatkannya dengan menjaga semua pantangan dan melakukan ritual sepanjang hidupnya tidak kenal waktu dan dengan metode yang didapatnya sendiri mengikuti “rasa” yang ada pada dirinya.

Ijazah keilmuan merupakan gerbang untuk memasuki fase yang saya sebut tadi (sampai jadi ke sampai jadi jadian), karena tanpa ijazah maka seseorang tidak akan mendapatkan ilmu apalagi tuahnya. dalam ijazah keilmuan berlangsung proses ijab kabul tetapi tidak serupa dengan prosesi pernikahan/perkawinan.

Menerima ijazah keilmuan bukan berarti ilmu langsung jadi, tetapi sipenerima ijazah diberikan suatu ilmu yang diinginkan kemudian di berikan petunjuk melakukan proses agar mencapai “sampai jadi”. Keberhasilan sipenerima ijazah tergantung niat ikhlas dan ketekunan berlatih atau ketekunan melaksanakannya. Semua keilmuan di ijazahkan oleh penghusada apabila “tidak jadi” setelah ditekuni atau dilaksanakan maka semua berpulang pada “Sang Maha Pencipta”…manusia tidak ada yang mampu memastikan. Jadi…dalam ijazah penghusada tidak ada jaminan ilmu yang di ijazahkan berhasil setelah dilaksanakan atau dikerjakan. Karena itu “berhasil atau tidak berhasil” tergantung “Serasi atau kecocokan serta rezeki” masing-masing penerima ijazah setelah dijalani dan dilaksakan.

Kebanyakan ilmu proses pemberian ijazah boleh dengan tulisan (tertulis), tetapi ada juga suatu keilmuan proses penghusada (pemberian jazah) hanya melalui lisan yang harus cepat daya tangkap dan ingatan sipenerima ilmu karena menyampaikannyapun tidak boleh berulang ulang hingga jumlah tertentu. Dan biasanya jenis keilmuan ini sipenerima ijazah harus cepat tangkap ingatan. Umumnya ilmu seperti itu terjadi disebabkan si pemberi ijazah ilmu melakukan pembuangan ilmu, sehingga setelah ilmu tersebut diterima oleh si penerima ijazah maka ilmu yang dimiliki si pemberi ijazah akan seketika hilang. Ada juga prosesi seperti itu memang persyaratan utama yang mutlak tidak boleh diganggu gugat.

SEKAPUR SIRIH

“KE ILMUAN DI WEBSITE KIBAYUEJATI MERUPAKAN HASIL PENCARIAN DAN PERJALANAN YANG PANJANG. YANG DI GALI DARI BEBERAPA GURU SPIRITUAL DAN JUGA DKUTIP DARI BEBERAPA KITAB PRIMBON, MUJAROBAT, KUMPULAN DO’A MUSTAJAB, KITAB PENINGGALAN LELUHUR TURUN TEMURUN.”

UNTUK MENYEMPURNAKANNYA MAKA SEMUA ITU DIKAJI ULANG DENGAN GURU SPIRITUAL DAN BEBERAPA TEMAN SEPROFESI YANG SEHARI-HARINYA BERGELUT DALAM DUNIA SPIRITUAL.

DISAMPING ITU TENTUNYA UNTUK MENAMBAH PERBENDAHARAAN KATA DEMI KATA DALAM SEBUAH KALIMAT DEMI KALIMAT DALAM ARTIKEL DI AMBIL DARI PENGALAMAN PRIBADI, PENGALAMAN ORANG LAIN, REFRENSI KITAB-KITAB DAN BROWSING INTERNET.

TENTUNYA DISANA SINI MASIH BANYAK KEKURANGAN, KEPADA SELURUH TUAN-TUAN GURU, CERDIK PANDAI, HANDAI TOLAN MOHON MAAF ATAS SEGALA KEHILAPAN, YANG BENAR DARI ALLAH DAN YANG SALAH DARI SAYA SENDIRI. BUKAN MAKSUD MENGAJAR LIMAU BERDURI, TETAPI SEKEDAR MENYAMPAIKAN ASPIRASI.

KEPADA SELURUH SAUDARAKU YANG BERKUNJUNG BOLEH BERKOMENTAR DENGAN BAHASA YANG SOPAN DAN MOHON MAAF APABILA ADA KOMENTAR YANG TIDAK DI TERBITKAN, MUNGKIN KARENA ADA SESUATU HAL.

KHUSUSNYA BAGI YANG INGIN MEMAKAI JASA KIBAYUSEJATI BOLEH BERKUNJUNG KE EMAIL ATAU TINGGALKAN PESAN DIKOTAK PESAN YANG ADA DIARTIKEL. SETIAP HARI ADMIN BANYAK MENERIMA SMS MELALUI “HP” JUGA EMAIL MELALUI SURAT ELEKTRONIK MAKA MOHON DIMAKLUMI APABILA ADA KOMEN ATAU PERMINTAAN YANG MASUK BELUM DIBALAS ATAU BELUM DILAYANI. KAMI BERUSAHA SETIAP HARINYA MERUBAH MEKANISME AGAR DAPAT MEMUASKAN SAUDARA.

CARA-CARA UNTUK MENDAPATKAN IJAZAH

Ilmu-Ilmu yang terdapat dilaman Web ini kesemuanya diperturunkan secara turun-temurun dengan berbagai syarat dan pantang larang yang perlu diikuti. Penggunaan barang-barang tertentu dan syarat-syarat perlu dipatuhi untuk memastikan kekuatan mentera-mentera tidak kekurangan sedikitpun dari segi keampuhannya.

Pengunaan sesuatu Ilmu tanpa penurunan Ilmu secara betul boleh memudaratkan pengguna dan mendatangkan kesan. Ilmu yang tidak diperturunkan diumpamakan layang-layang putus tali dimana tidak mempunyai hala-tuju dan ilmu tersebut mungkin memakan diri sendiri.

Terdapat juga ilmu-ilmu hitam menggunakan kuasa jin dan anda tidak digalakkan untuk mengunakannya. Anda boleh mempelajarinya untuk menambahkan Ilmu pengetahuan. Terpulang pada diri anda untuk mempelajarinya.

Sebagai syarat penurunan ilmu yang terdapat dilaman Web ini maka hendaklah Ilmu itu diijazahkan secara ikhlas dengan menurut syarat-syaratnya.

KEILMUAN DI IJAZAHKAN

“DENGAN WANG MAHAR TUNAI”

KIRIM KE REKENING:

_______________________

BRI UNIT SIMPANG POS MEDAN PUTRI HIJAU

A/N: ILYAS NASUTION

No. Rek : 5328.01.000034-50-7

________________________________

BANK MANDIRI KCP MEDAN SIMPANG POS

A/N: ILYAS NASUTION

NO. REK: 105-00-0971111-4

_________________________________

NAMA: ILYAS NASUTION

Alamat: Jalan Luku 1 No 65 Medan Johor

Provinsi SumateraUtara INDONESIA

Pos: 20142

NOMOR KTP (KARTU TANDA PENDUDUK): 1271041404680006

Atau;

Pembayaran dapat dilakukan melalui Setoran Tunai, WESTERN UNION,ATM, Internet Banking/setoran tunai melalui Bank Lain.

Konfirmasikan transfer Anda melalui email :

Dengan berita “Konfirmasi Transfer KS” melalui alamat email kami: kibayusejati@gmail.com, atau bisa juga melalui SMS

Ke Nomor Telp:

+6281361228624 - 087869685899

( NO SMS )

Dengan Format :

“KS / Nama, alamat email, alamat rumah, tgl / jam transfer bank, ATM / Tunai, NAMA ILMU YANG DIMAHARKAN”

( Anda harus mengetik KS di awal SMS anda! )

++++++++++++++++++++++++++++++++++

Alamat Praktek Indonesia:

Jalan Pintu Air IV

Gang Bangun Mulia

Medan Sumatera Utara

Indonesia

===========================

PERHATIAN…..!!!!!!!!!!KIBAYUSEJATI ADA OFFICE DI MALAYSIA DAN MENERIMA (BOLEH) SIAPA SAJA YANG INGIN MENDAPAT IJAZAH KEILMUAN , SERTA BERSEDIA(BOLEH) MEMBANTU BAGI SIAPA SAJA YANG INGIN MEMAKAI JASA KIBAYUSEJATI DALAM HAL:- PASANG PEMANIS / PESERI WAJAH - PELARIS BERNIAGA - PENGASIH UMUM - PENGASIH KHUSUS - AJIAN KESELAMATAN - PENGOBATAN GAIB PENYAKIT SYETAN - PEMIKAT / PELET - MENYATUKAN PASANGAN / BOY FRIEND - MENYATUKAN SUAMI ISRI BERTENGKAR

- MENINGKATKAN POPULAR ARTIS

Kibayusejati bukan sahaja dikunjungi oleh pesakit, artis popular malaysia, malahan para ahli politik, ahli perniagaan, orang kenamaan pernah menemui Kibayusejati untuk mendapatkan rawatan serta khidmat nasihat zahir dan batin. Pesakit yang datang adalah daripada seluruh Malaysia, Singapura, Brunei dan luar negeri. Pesakit rawatan terdiri dari pelbagai kaum seperti Melayu, Cina, India, Inggeris, Jerman dan lain-lain.